Rabu, 14 Desember 2011

KEBERSAMAAN

Belajar untuk membangun kebersamaan adalah salah satu proses yang cukup sulit, apa lagi dalam sebuah tim atau organisasi.
Bagaimana kita semua mau meleburkan seluruh karakter yang kita miliki menjadi satu dalam tim atau organisasi tersebut.

Belajar mengendalikan ego, belajar mengendalikan emosi, belajar menata hati dan belajar melapangkan dada adalah mata rantai yang harus dipenuhi jika kebersamaan ingin di hadirkan bersama-sama.
Betapa banyak orang yang bergabung dalam sebuah tim atau organisasi, tetapi mereka hanya hadir sebagai jasad saja, sedang pikiran dan hati mereka tidak hadir dalam tim atau organisasi tersebut. Jika itu yang terjadi, maka ketika muncul konflik atau friksi dalam tim, maka itu memungkinkan terjadi perpecahan yang cukup tajam antara mereka.

Pekerjaan rumah terbesar bagi organisasi manapun saat ini adalah bagaimana soliditas dan kebersamaan itu bisa tumbuh bersama. Semakin besar organisasi maka soliditas dan kebersamaan itu akan senantiasa diuji dalam berbagai permasalahan yang ada. Kedewasaan anggota organisasi turut mempengaruhi proses kebersamaan yang terjadi dalam tubuh organisasi itu.

Memang proses kebersamaan itu harus melibatkan semua elemen yang ada dalam tubuh organisasi. Idealnya memang setiap anggota baru atau setiap orang yang hendak masuk kedalam sebuah tim, melalui proses yang cukup agar bisa mengetahui sejarah organisasi sehingga diharapkan ada kesadaran yang tinggi untuk memiliki rasa kebersamaan dengan anggota yang lain.

Belajar dari pengalaman yang panjang dalam berinteraksi dengan berbagai macam karakter manusia, memang diakui butuh proses yang panjang agar kebersamaan itu tumbuh.
Akan tetapi menyerah bukanlah solusi, kita tetap harus senantiasa berupaya dan terus mencoba agar kebersamaan itu bisa tumbuh dalam sebuah tim. Masalah yang ada itu akan membuat kebersamaan semakin kuat, maka belajarlah secara dewasa dari permasalahan yang ada. Berpikir positif salah satu kunci agar perekat kebersamaan itu bisa semakin kuat didalam tubuh organisasi.

Maka dari itu, belajarlah untuk melatih seluruh potensi yang kita miliki agar bisa menikmati kebersamaan dalam sebuah tim.

BELAJAR LAPANG DADA

Memang ketika kita sudah mulai terjun didalam masyarakat, maka kita harus menyiapkan bekal yang cukup. Bekal yang paling utama dan paling dasar adalah sikap lapang dada. Mengapa ?  Karena kita bergaul dengan banyak orang, banyak kepala, banyak pemikiran dan banyak karakter.

Ada ungkapan yang sangat berkesan yang disampaikan oleh Ar- Rafi' yaitu,
"Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang makin mengecil dan menyempit. Engkau harus tahu bahwa bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamulah yang sempit, bukan dunianya.”

Sungguh, ungkapan yang sangat berkesan dan menjadi sebuah bekalan yang sangat berharga dalam menghadapi kondisi masyarakat yang ada.

Kita mungkin banyak hal yang tidak mengecewakan hati. Itu bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Bisa dirumah, bisa di masjid, bisa di organisasi, bisa dimana saja. Ketika kita gagal melapangkan dada kita yang terjadi adalah bukan cepat selesainya masalah, malah semakin melebar dan bahkan sudah menyerang ranah pribadi. Itu merupakan potret yang ada disekitar kita, bahkan tidak mungkin kita pun bisa mengalaminya.


Ketika seseorang tidak atau belum bisa melapangkan dadanya atas sebuah permasalahan, betapa meruginya dia. Mengapa demikian ? Betapa banyak energi yang terkuras secara sia-sia. Betapa banyak waktu yang terbuang secara sia-sia. Bahkan kalau kita mau jujur, kita pun juga ikut merasakan sakit secara pikiran dan fisik.


Memang tidak bisa dipungkiri, tiap - tiap orang memiliki kapasitas dan kemampuan yang berbeda dalam menghadapi suatu permasalahan.
Yang paling penting adalah apakah kita mau atau tidak untuk belajar melapangkan dada ini atas segala permasalahan yang ada dan mungkin menimpa kita.


Yakinlah bahwa tidak ada yang tidak dicatat oleh Sang Khalik, maka dari itu buat apa kita buang-buang waktu untuk larut dalam kekecewaan yang tiada berujung. Semua pasti ada hikmahnya. Semua pasti ada nilainya. Semua pasti ada ganjarannya. 


Yang paling penting adalah kita tetap berusaha untuk tetap berbuat dan bekerja. Tetap berupaya menjaga keihklasan hati ini dalam segala kondisi apapun. 


Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang dilapangkan hatinya oleh Allah....